Musibah yang tidak di kehendaki
Namaku Ririnia anak bungsu dari tiga bersaudara, aku memiliki abang bernama Rozel dan kakak bernama Rivvi, ayahku bernama Tonio dan ibuku bernama Azizah. ayahku adalah pemilik pabrik pengolahan padi, sedangkan ibu adalah seorang petani yang memiliki sawah yang sangat luas. aku seorang siswa MTsN Dharmasraya aku duduk di kelas 9.2 dan abang adalah seorang TNI Angkatan darat dan kakak sedang bersekolah di SMAN 1 KOTO BARU.
Pada hari minggu aku,ibu dan kakak pergi ke sawah, saat itu kami hendak memanen padi-padi tersebut namun, ternyata padi-padi itu belum siap untuk di panen jadi kami tidak jadi memanen padi-padi tersebut dan kami hanya mencabuti rumput-rumput dan ngusir belalang dan burung yang hendak memakan padi. hari sudah siang kakak dan ibu pergi ke pondok dan kakak memanggil untuk makan siang.
" Riri!! ayo kemari kita makan siang!"
aku pun menjawab
"iyaa aku kesana"
aku berlari agar cepat sampai di pondok dan segera makan lauk yang ibu masak. setelah kami makan, ibu pun mengantuk lalu berkata.
" kakak lihatin burung yang makan padi ya ibu ingin tidur sebentar"
"iyaa bu"
karna ibu tidur aku pun berlari untuk menangkap belalang-belalang untuk di jadikan makanan untuk burung beoku di rumah. setelah aku menangkap belalang aku hendak kembali ke pondok aku berselisih dengan bapak anto yang juga seorang petani sawah dan menyapa ku.
"eh Ririnia ngapain di tengah hari ini di situ" sambil mengisap rokoknya
"eh iya pak anto ini nangkap belalang untuk di kasih ke burung beo"
" oalah jangan main tengah panas panas nanti sakit kepala"
"iya pak"
pak anto pun pergi dan membuang puntung rokoknya ke arah padi yang sudah menguning dan perlahan membakar padi tersebut. aku pun duduk di tepian pondok dan menghitung berapa belalang yang telah ku tangkap dan setelah itu aku pun ikut tidur bersama ibuku. kakak ku yang sedang menarik tali kelontong agar burung-burung berterbangan dan tidak jadi makan padi dan setelah itu menoleh ke arah sudut yang mulai berapi-api dan membakar padi-padi dan mulai histeris
"ASTAGHFIRULLAH ibu kebakarannnn
ibu sontak bangun dan terkejut dan segera keluar pondok.
"astaga kenapa bisa kebakar"
aku yang terbangun karna teriakan ibu ikut keluar
"Kenapa bu?"
"padinya kebakar"
dengan raut sedih dan cemas semuanya terbakar ibu mulai meneteskan air mata, dengan sigap aku mengambil hp dan menelpon pemadam kebakaran dan kakak ku mulai memadamkan api dengan kain dan menepuk-nepuknya.
akhirnya pemadam kebakaran pun datang dan mulai memadamkan api-api itu dan masyarakat pun mulai berkerumun dan ayah pun datang untuk memenangkan ibu yang menangis karna padinya setengah lahannya telah hangus di makan api. dan akhirnya apinya padam dan semua orang telah pergi karna apinya sudah padam tetapi ibu masih sedih dengan hangus semua padinya dan ayah mulai membujuk ibu.
"tidak apa-apa nanti kita tanam sama-sama"
"iya bu kita tanam sama-sama "
"iya kan minggu besok kita panen nah abis itu kita tanam lagi semua kan abang juga pulang"
"iya yah,kak,dek ibu cuma sedih dikit, siapa sih yang tega membakar padi ibu"
"gak apa-apa ikhlasin aja"
dan akhirnya kami pulang. dan minggu selajutnya kami memanen dan menanam kembali padi-padi tersebut bersama-sama dan ibu lembali ceria karna kebersamaan kami sekeluarga dan akhirnya semua bahagia dan ibu ikhlas dengan kejadian sebelumya.


Komentar
Posting Komentar